Full width home advertisement

Buku

Post Page Advertisement [Top]

 
Assalamu’alaikum. Hai saya Ar-Rahman D. Nur alias Nur Rahman. Mungkin ceritaku kali ini tidak begitu penting, saking tidak pentingnya sampai malas aku bacanya kembali (ya dibaca lagi biar kata-katanya mudah dipahami). Tetapi karena yang tidak penting itu, kamu harus tahu. sampai detik ini aja aku bingung mulai cerita dari mana. Tiba-tiba ada suara entah dari mana, ada bisikan dari alam sebelah, katanya mulai aja sejak kamu berada dalam rahim ibumu..buset dah waktu kecil aja lupa gimana aku bisa sampai besar kayak gini. ya elah mau mulai dari dalam rahim. Baru aja diberi ilham (intuisi) menulisnya dari cerita ketika kamu semester 5, eh teman nyuruh aku ke rumahnya. ya udah ceritanya nanti aja. maaf ya hehe…

ya udah gak usah bertele-tele, aku lanjutin aja ceritanya. sebenarnya ini tentang ketika aku kekurangan darah atau bahasa kerennya anemia. awal mulanya yah, seperti orang yang anemia, gak ada hal yang membuatnya berbeda. Mungkin sudah lama aku memiliki anemia, karena aku gak pernah memperhatikan kesehatanku, ya nunggu ketika udah parah banget baru diperiksa. ya udahlah ini jadi pelajaran buat siapa aja. jangan nunggu penyakit itu parah deh baru diperiksa ke dokter. syukur-syukur udah tau gejalanya dan langsung diperiksa sama dokter. kalau sudah sakit parah mah, biaya buat berobat jadi jauh lebih malah ketimbang harus menjaga badan tetap sehat. sebenarnya sih, biaya buat hidup sehat itu murah daripada biaya buat sakit. Kalau ada yang mengatakan sehat itu mahal, mungkin aku akan katakan kepadanya “aku cinta kamu”, haaa, iya emang benar aku cinta kamu. Tapi bukan itu yang ingin aku katakan, yang ingin aku katakan adalah “kamu salah besar jika beranggapan hidup sehat itu mahal”. Sebenarnya kalau sudah sakit parah, pasti kamu ataupun keluarga kamu rela-relain berobat ke mana-mana hanya ingin kamu sembuh dan rela menjual apapun demi kesehatan kamu.

Awal mulanya yah, ketika sudah parah banget baru ke rumah sakit. satu angkatan sama aku tau semua aku sakit bahkan dosen, staf dan beberapa kakak tingkatpun tahu aku sakit parah. sakit parah, sebenarnya seberapa parah sih penyakit kamu. eits nanti dulu ceritanya. sempat pingsan di kelas, waktu itu pagi-pagi berangkat dari rumah ke kampus, perjalanan memakan waktu selama satu jam, waktu itu lagi hujan, jadi ya hujan-hujanan ke kampus. Sesampainya aku di kelas, AC sangat terasa dingin sehingga kakiku gak terlihat darah sama sekali alias pucat. ketika jam pelajaran kedua, dosen sedang mengajar, aku terasa dehidrasi, minum air juga gak menghilangkan hausnya, dan juga sudah berusaha mengatur nafas. Akhirnya ruangan menjadi sangat gelap. wooii…siapa nih yang lagi matiin lampunya. nyalain dong, ternyata aku sudah terbaring di belakang kelas, ternyata aku sudah pingsan beberapa menit yang lalu. singkat cerita, pelajaran selesai, aku istirahat di kosan teman, sorenya kembali ke rumah, Alhamdulillahnya sampai rumah gak kenapa-kenapa. gak langsung ke rumah sakit, aku minta surat rujukan untuk diperiksa ke rumah sakit. besoknya aku sendiri periksa ke rumah sakit. waktu itu orang tua lagi berangkat ke Palembang untuk menghadiri pernikahan kakakku. Berangkat sendiri ke rumah sakit, dicek darahnya setelah itu ditunjukin sama dokter. sebelum itu ya dokter sudah menduga aku bakalan tranfusi darah. setelah hasil lab keluar, dilhat hemoglobin atau HB ku waktu itu 3,7. itu pun gak langsung dirawat inap, setelah itu, siangnya aku pulang, aku i Cuma istirahat di kamar. oiya aku juga ngasih tau ke orang tua dan keluarga kalau HB ku sangat rendah. itu pun gak langsung dibawa ke rumah sakit. Besok sore baru aku di antar sama pamanku ke rumah sakit. ya langsung di pasang infusan dan langsung dicarikan darah. petugas yang membaca hasil lab itu marah-marah, kenapa gak dibawa langsung ke rumah sakit. ya sudah deh, aku pasrah aja. untuk malamnya dapat kamar jadi gak harus tidur di ugd.

singkatnya beberapa aku keluar masuk rumah sakit hanya untuk transfusi darah, ya mungkin bisa dibilang satu pekan di rumah sakit dan satu pekan di rumah, seperti itu aktivitas baru aku selama aku sakit. setelah keluar ya gak bisa kemana-mana, hanya jalan untuk ke masjid. selebihnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalau di rumah sakit mah jangan ditanya aktivitas apa aja yang bisa orang sakit lakukan. ada tiga aktivitas penting orang sakit yang dirawat di rumah sakit, TIDUR-MAKAN, BAB. Mungkin ada satu lagi, yaitu ngobrol. nggak..cuman empat itu, aktivitas yang bisa dilakukan orang sakit yang dirawat di rumah sakit. setelah bebarapa kali keluar masuk, akhirnya dokter menyuruh aku untuk tes BMP, iya semacam mengambil cairan di sumsum-tulang. akhirnya setelah beberapa pekan dan beberapa kali masuk rumah sakit. akhirnya penyakit yang aku derita ini..jeng jeng jeng. yups, Anemia Aplastik. Ketika mendengar penjelasan dari dokter, rasanya ingin dunia ini cepat-cepat kiamat. biar penderitaanku selesai. Bagaimana rasanya ketika tau bahwa penyakit yang aku derita ini sangat mengerikan dan bisa dibilang sangat langka.

singkat cerita lagi, keluargaku sudah habis puluhan juta hanya untuk berobat, mencari alternatif, menghabiskan puluhan juta hanya untuk berobat kampung yang gak masuk akal. dan telah mengkonsumsi semua jenis herbal. yah, gak semuanya. untungnya banyak bantuan dari teman dan kerabat  serta saudara memberi bantuan dana untuk mencukupi biaya pengobatan tersebut. Tetapi apa yang aku dapat, hasilnya nihil, sama aja. tapi ya, lebih baik berusaha mencari jalan dan obat daripada hanya diam diri saja. dokter hanya memberi obat anti steroid atau apalah namanya, intinya buat menekan imun yang tinggi. haa imun tinggi, iya imun tinggi ternyata gak hanya imun rendah rendah saja yang bisa menyebabkan penyakit, ternyata imun yang tinggu juga gak baik buat kesehatan, yang bagus itu imunnya stabil. oke lanjut, waktu itu dokter memberikan obat sandimun neural 25 mg. dan harganya pun gak murah. dokter memberi dosis sehari satu kapsul, ternyata kondisiku gak membaik, ditambah lagi dosisnya 2 kapsul sehari, pagi dan malam, harus per 12 jam minum obat sandimun. Namun, tetap saja harus tranfusi lagi-tranfusi lagi. beberapa bulan konsumsi oabat tersebut, akhirnya perawan menyaranin aku buat konsumsi TF. Perawat itu kena marah sama ibu aku, dimarahin kenapa baru ngasih tau sekarang. Dia juga baru tau, tetapi gak ngasih tau langsung, mungkin dia kurang percaya diri.

Singkat cerita lagi deh,  sebelum aku mengkonsumsi TF ini, aku selalu berpikiran “Bulan depan aku sembuh” dan sampai saat ini aku juga berpikir positif tentang apa yang telah diberikan kepadaku. singkatnya aku telah mengkonsumsi TF ini dan gak lama kesehatanku berangsur membaik dan sampai sekarang Alhamdulillah gak ada tranfusi lagi dan aku kembali sehat meskipun pola makan dan pola tidurku harus diperhatikan.

Sekian dari ceritakku yang agak sedikit aneh. Salam manis dari saya….semoga bermanfaat

Ar-Rahman D. Nur alias Nur Rahman

sharing lebih lanjut bisa menghubungi saya lewat

No HP/Wa. 082284275017

E-mail. nurrahman9767@gmail.com

Wassalamu’alaikum..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib